Apa Itu Margarin? Bahan, Cara Pembuatan, Kegunaan, Cara Penyimpanan, dan Tips Memilih

Diposting :

Apa Itu Margarin? Bahan, Cara Pembuatan, Kegunaan, Cara Penyimpanan, dan Tips Memilih

Hampir setiap dapur di Indonesia menyimpan margarin. Bahan ini dipakai untuk mengoles roti bakar, membuat adonan bolu, sampai menumis nasi goreng. Namun, banyak orang masih menyebutnya "mentega", padahal keduanya berbeda bahan dasar, rasa, dan perilakunya saat dimasak. Kekeliruan kecil ini sering berujung pada hasil yang tidak sesuai harapan, misalnya kue kering yang kurang renyah atau bolu yang cepat keras.

Artikel ini membahas margarin secara lengkap dan runtut. Mulai dari pengertian, margarin terbuat dari apa, bagaimana proses pembuatannya, kegunaannya di dapur, perbedaannya dengan mentega dan shortening, cara menyimpan agar tidak tengik, hingga tips memilih margarin yang tepat untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kuliner.

Apa Itu Margarin

Margarin adalah lemak olesan yang dibuat dari minyak nabati, lalu dicampur dengan air dan bahan pengemulsi sehingga teksturnya padat dan mudah dioles. Secara teknis, margarin merupakan emulsi air dalam minyak, artinya butiran air yang sangat kecil tersebar merata di dalam fase lemak. Struktur inilah yang membuat margarin tetap padat di suhu ruang yang sejuk, tetapi meleleh saat dipanaskan.

Margarin pertama kali dikembangkan oleh seorang ahli kimia Prancis pada tahun 1869 sebagai pengganti mentega yang lebih murah dan tahan lama. Menurut sejarah margarin, namanya berasal dari kata Yunani yang berarti mutiara, karena warna lemak pada versi awalnya tampak berkilau. Sejak itu, margarin berkembang menjadi bahan dapur utama di banyak negara, termasuk Indonesia.

Di pasaran, ada beberapa istilah yang sering dianggap sama dengan margarin. Berikut perbedaannya secara singkat:

  • Mentega (butter): lemak padat dari krim susu sapi, sehingga termasuk lemak hewani.
  • Mentega putih (shortening): lemak nabati hampir murni tanpa kandungan air, biasanya berwarna putih dan tidak berasa.
  • Margarin krim: margarin dengan tekstur lebih lembut dan aroma susu atau vanila, umumnya untuk olesan dan baking.
  • Butter blend: campuran margarin dan mentega untuk mendapatkan aroma butter dengan harga yang lebih terjangkau.

Margarin Terbuat dari Apa dan Bagaimana Cara Pembuatannya

Pertanyaan "margarin terbuat dari apa" cukup sering dicari, dan jawabannya lebih sederhana dari yang dibayangkan. Bahan dasarnya adalah minyak nabati, sementara sisanya merupakan bahan pendukung untuk tekstur, rasa, dan daya simpan.

Bahan Utama Margarin

Di Indonesia, sebagian besar margarin dibuat dari minyak kelapa sawit dan turunannya, seperti olein, stearin, dan minyak inti sawit. Minyak sawit dipilih karena secara alami bersifat setengah padat, sehingga mudah diolah menjadi lemak dengan kekerasan yang diinginkan. Beberapa produsen juga memakai minyak kelapa atau minyak nabati lain sebagai campuran.

Selain minyak, margarin umumnya mengandung bahan berikut:

  • Air atau susu skim: membentuk fase air dalam emulsi dan memengaruhi tekstur.
  • Garam: memberi rasa gurih sekaligus membantu daya simpan.
  • Pengemulsi: seperti lesitin atau monogliserida dan digliserida, agar air dan lemak tidak terpisah.
  • Vitamin A dan D: ditambahkan sebagai fortifikasi. Di Indonesia, standar SNI untuk margarin mewajibkan penambahan vitamin A.
  • Perisa, pewarna, dan pengawet: misalnya beta karoten untuk warna kuning dan perisa butter untuk aroma.

Kadar lemak margarin biasanya sekitar 80 persen. Angka ini mirip dengan mentega, sehingga keduanya bisa saling menggantikan dalam banyak resep.

Proses Pembuatan Margarin

Pembuatan margarin di pabrik modern berlangsung melalui beberapa tahap yang terkontrol. Secara garis besar, prosesnya seperti ini:

  • Pemurnian minyak. Minyak sawit mentah dimurnikan, dipucatkan, dan dihilangkan baunya agar netral, jernih, dan aman dikonsumsi.
  • Pengaturan kekerasan lemak. Minyak difraksinasi atau diinteresterifikasi, yaitu disusun ulang struktur lemaknya, agar memiliki titik leleh yang pas. Cara ini kini lebih banyak dipakai dibanding hidrogenasi parsial yang berisiko menghasilkan lemak trans.
  • Pencampuran fase minyak dan fase air. Minyak dicampur dengan pengemulsi dan vitamin, sementara air dicampur dengan garam dan bahan larut air lainnya. Keduanya lalu diaduk menjadi emulsi yang stabil.
  • Pendinginan cepat dan pengulenan. Emulsi didinginkan dengan cepat sambil terus diaduk sehingga terbentuk kristal lemak halus. Tahap ini menentukan apakah margarin akan lembut, plastis, atau lebih keras.
  • Pengemasan. Margarin dikemas dalam sachet, cup, kaleng, atau karton besar sesuai kebutuhan rumah tangga maupun industri.

Seluruh tahap ini dilakukan secara higienis dengan mesin tertutup, sehingga mutu setiap kemasan tetap konsisten dari waktu ke waktu.

Ciri-ciri Margarin

Margarin cukup mudah dikenali, terutama bila dibandingkan langsung dengan mentega atau shortening. Perhatikan beberapa ciri berikut:

  • Warna: umumnya kuning cerah hingga kuning pucat, berasal dari pewarna alami seperti beta karoten.
  • Tekstur: padat tetapi lentur di suhu ruang yang sejuk, mudah dioles tanpa perlu didiamkan lama.
  • Aroma: gurih dengan sentuhan aroma butter atau vanila, tergantung jenis dan mereknya.
  • Rasa: sedikit asin dan gurih, tidak setajam rasa susu pada mentega asli.
  • Saat dipanaskan: meleleh cepat, sedikit memercik karena kandungan airnya, lalu mengeluarkan aroma harum khas.

Ciri yang paling membedakan margarin dari shortening adalah kandungan airnya. Margarin akan sedikit memercik dan berbuih saat dipanaskan, sedangkan shortening meleleh tenang karena hampir seluruhnya lemak.

Kegunaan Margarin di Dapur

Inilah bagian yang paling relevan bagi kebanyakan pembaca. Margarin sangat serbaguna, mulai dari olesan sederhana sampai bahan inti kue tradisional dan modern. Berikut kegunaannya berdasarkan fungsi.

Olesan Roti dan Jajanan

Fungsi paling klasik margarin adalah sebagai olesan. Roti tawar bakar, roti bakar bandung, dan roti kukus hampir selalu memakai margarin agar permukaannya gurih dan harum. Martabak manis juga tidak lengkap tanpa olesan margarin tebal sebelum ditaburi topping.

Untuk kebutuhan ini, pilih margarin yang mudah dioles dan memiliki aroma yang menggugah selera. Margarin Classic Rose Brand, misalnya, dirancang untuk olesan roti sekaligus kebutuhan memasak sehari-hari.

Bahan Adonan Kue dan Roti

Dalam baking, margarin berperan memberi kelembutan, kelembapan, dan struktur. Saat dikocok bersama gula, margarin memerangkap udara sehingga adonan menjadi ringan dan mengembang. Contoh kue yang memakai margarin antara lain:

  • Kue kering: Nastar, Kastengel, Putri Salju, dan Lidah Kucing.
  • Bolu dan cake: Bolu Pandan, Marmer Cake, dan Brownies Panggang.
  • Kue tradisional: kue Lumpur, Bolu Kukus, kue Cubit, dan Lapis Legit yang sering memakai campuran margarin dan butter.
  • Roti manis: Roti Sobek dan Roti Isi, agar tekstur lebih empuk dan tidak cepat keras.

Margarin yang bersifat tidak mudah keras atau anti staling membantu kue tetap lembut lebih lama setelah dipanggang. Sifat ini penting bagi pembuat kue rumahan yang menjual produknya untuk hari berikutnya.

Menumis dan Memasak

Margarin juga dipakai sebagai lemak memasak untuk hidangan yang membutuhkan aroma gurih khas. Nasi Goreng Mentega, Ayam Goreng Mentega, Udang Saus Mentega, dan Tumis Sayuran sering dibuat dengan margarin. Meski namanya "mentega", di banyak dapur Indonesia bahan yang dipakai sebenarnya adalah margarin.

Karena mengandung air, gunakan api sedang saat menumis dengan margarin. Api yang terlalu besar membuat margarin cepat gosong dan menimbulkan rasa pahit.

Pelapis Loyang dan Cetakan

Fungsi kecil yang sering terlupakan adalah sebagai pelapis cetakan. Oleskan margarin tipis pada loyang, cetakan kue Cubit, atau cetakan kue Lumpur agar adonan tidak lengket dan mudah dikeluarkan. Hasilnya, permukaan kue lebih rapi dan berwarna keemasan.

Kebutuhan Usaha Kuliner

Bagi pelaku UMKM seperti penjual martabak, roti bakar, bakery rumahan, dan katering, margarin adalah bahan habis pakai yang volumenya besar. Konsistensi rasa dan tekstur antar kemasan menjadi faktor penting, karena pelanggan berharap rasa yang sama setiap kali membeli. Karena itu, kemasan besar seperti karton 15 kg sering menjadi pilihan agar lebih hemat biaya dan stok lebih terjaga.

Kandungan dan Manfaat Margarin

Margarin pada dasarnya adalah sumber lemak dan energi. Berdasarkan data kandungan gizi margarin dari USDA FoodData Central, margarin dengan kadar lemak sekitar 80 persen mengandung kurang lebih 700 kalori per 100 gram, atau sekitar 100 kalori per sendok makan. Kandungan protein dan karbohidratnya hampir tidak ada.

Meski begitu, margarin tetap memberi beberapa manfaat praktis:

  • Sumber energi: lemak menyediakan energi yang padat dan membantu rasa kenyang lebih lama.
  • Membantu penyerapan vitamin: vitamin A, D, E, dan K larut dalam lemak, sehingga lebih mudah diserap bersama makanan berlemak.
  • Sumber vitamin A: berkat fortifikasi sesuai SNI, margarin di Indonesia ikut menyumbang asupan vitamin A.
  • Bebas kolesterol: karena berbahan nabati, margarin tidak mengandung kolesterol seperti mentega yang berasal dari susu.
  • Harga lebih terjangkau: cocok untuk kebutuhan memasak harian dan produksi skala usaha.

Namun, margarin tetap perlu dikonsumsi secukupnya. Lemak jenuh dari minyak sawit dan risiko lemak trans pada margarin yang dibuat dengan hidrogenasi parsial perlu diperhatikan. Organisasi Kesehatan Dunia menjelaskan bahwa konsumsi lemak trans berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, sehingga sebaiknya pilih produk dari produsen terpercaya dan imbangi dengan sayur, buah, serta sumber protein yang bergizi.

Perbedaan Margarin dengan Bahan Lain

Margarin sering tertukar dengan beberapa bahan lemak lain di dapur. Padahal, setiap bahan punya karakter yang berbeda dan memengaruhi hasil masakan. Berikut perbedaan yang paling sering ditanyakan.

Margarin dan Mentega (Butter)

Ini perbandingan yang paling banyak dicari. Mentega dibuat dari krim susu sapi yang dikocok hingga lemaknya memadat, sehingga termasuk lemak hewani dan mengandung kolesterol. Margarin dibuat dari minyak nabati, umumnya minyak sawit, sehingga bebas kolesterol dan harganya lebih terjangkau.

Dari sisi rasa, mentega memiliki aroma susu yang lebih kuat dan lembut, sementara margarin lebih gurih dan sedikit asin. Mentega juga lebih cepat meleleh di suhu ruang, sedangkan margarin lebih stabil sehingga lebih mudah dipakai di iklim tropis seperti Indonesia. Banyak pembuat kue memadukan keduanya untuk mendapatkan aroma butter dengan struktur yang lebih kokoh.

Margarin dan Shortening (Mentega Putih)

Shortening hampir seluruhnya terdiri dari lemak, tanpa air, tanpa garam, dan biasanya tanpa rasa. Karena tidak mengandung air, shortening menghasilkan kue kering yang lebih renyah dan rapuh, serta krim kue (buttercream) yang lebih stabil dan tidak mudah lumer.

Margarin, sebaliknya, memberi rasa gurih dan aroma yang lebih kuat. Pada praktiknya, banyak resep kue kering memadukan margarin untuk rasa dan shortening untuk kerenyahan. Rose Brand juga menyediakan Shortening Rose Brand untuk kebutuhan baking yang memerlukan tekstur lebih renyah.

Margarin dan Minyak Goreng

Minyak goreng berbentuk cair pada suhu ruang dan tidak mengandung air, sehingga cocok untuk menggoreng dengan suhu tinggi. Margarin padat, mengandung air, dan memiliki aroma khas, sehingga lebih cocok untuk menumis singkat, mengoles, dan membuat kue. Menggoreng dengan margarin tidak disarankan karena mudah gosong dan memercik.

Margarin Biasa dan Margarin Krim

Margarin biasa umumnya bertekstur lebih padat dan serbaguna, dari olesan hingga menumis. Margarin krim memiliki tekstur yang lebih lembut dengan aroma vanila atau susu yang lebih menonjol, sehingga lebih cocok untuk olesan roti dan adonan kue yang mengutamakan aroma.

Kesalahan Umum saat Menggunakan Margarin

Margarin terlihat mudah dipakai, tetapi beberapa kesalahan kecil bisa memengaruhi hasil akhir. Berikut yang paling sering terjadi beserta cara menghindarinya:

  • Mengocok margarin yang terlalu keras. Margarin dingin dari kulkas sulit menangkap - udara. Diamkan sebentar di suhu ruang hingga lentur sebelum dikocok bersama gula.
  • Melelehkan margarin saat resep meminta dikocok. Margarin cair tidak bisa mengembangkan adonan, sehingga bolu menjadi padat dan bantat.
  • Mengganti shortening dengan margarin tanpa penyesuaian. Kue kering bisa menjadi kurang renyah dan lebih melebar saat dipanggang karena kandungan air pada margarin.
  • Menumis dengan api terlalu besar. Margarin cepat gosong, berasap, dan menimbulkan rasa pahit.
  • Menambahkan garam berlebihan. Margarin sudah mengandung garam, jadi kurangi garam tambahan pada resep kue atau masakan.
  • Memakai sendok basah atau kotor. Air dan sisa makanan dari sendok mempercepat tumbuhnya jamur dan membuat margarin cepat rusak.

Cara Menyimpan Margarin agar Awet

Penyimpanan yang benar menjaga margarin tetap segar, tidak tengik, dan aman dikonsumsi. Prinsip dasarnya adalah menjauhkan margarin dari panas, cahaya matahari, udara, dan kontaminasi.

  • Margarin yang belum dibuka bisa disimpan di tempat sejuk dan kering, jauh dari kompor dan sinar matahari langsung. Setelah dibuka, tutup kemasan rapat, lalu simpan di lemari es agar teksturnya stabil dan aromanya bertahan. Untuk kemasan besar, ambil secukupnya dengan sendok bersih dan kering, lalu pindahkan sisanya ke wadah kedap udara.
  • Margarin juga bisa dibekukan untuk penyimpanan jangka panjang. Potong menjadi beberapa bagian, bungkus rapat, dan cairkan di dalam kulkas sebelum dipakai. Selalu perhatikan tanggal kedaluwarsa pada kemasan, serta pastikan produk yang dibeli sudah terdaftar di BPOM sebagai jaminan keamanan pangan.

Waspadai tanda-tanda margarin yang sudah tidak layak pakai berikut:

  • Bau tengik atau asam yang tajam.
  • Warna berubah lebih gelap atau tidak merata.
  • Muncul bintik jamur di permukaan.
  • Air terpisah dalam jumlah banyak dan tekstur menjadi berpasir.

Jika menemukan salah satu tanda tersebut, sebaiknya margarin tidak digunakan lagi.

Memilih Margarin Berkualitas

Memilih margarin tidak cukup hanya melihat harga. Beberapa hal berikut bisa menjadi pegangan agar hasil masakan dan kue sesuai harapan:

  • Sesuaikan dengan kebutuhan. Untuk olesan dan memasak harian, pilih margarin serbaguna. Untuk kue dan roti yang mengutamakan aroma serta kelembutan, pilih margarin krim atau varian premium.
  • Perhatikan tekstur. Margarin yang baik mudah dioles, mudah dikocok, dan tidak berminyak berlebihan.
  • Cek aroma dan rasa. Aroma harus segar dan gurih, tanpa bau tengik.
  • Periksa label. Pastikan ada nomor izin edar BPOM, tanggal kedaluwarsa, dan informasi komposisi yang jelas.
  • Pilih ukuran yang tepat. Kemasan kecil cocok untuk rumah tangga, sedangkan kemasan besar lebih hemat untuk usaha kuliner.

Rose Brand menghadirkan beberapa pilihan dalam kategori margarin dan shortening untuk menjawab kebutuhan tersebut. Margarin Classic Rose Brand memiliki tekstur stabil dan sifat anti staling yang menjaga olahan tetap lembut lebih lama, tersedia dalam kemasan 200 gram dan 15 kg. Margarin Krim Rose Brand menawarkan aroma vanila dan buttery dengan rasa manis gurih yang lembut. Sementara itu, Margarin Royal Premium Rose Brand memberi aroma butter yang khas serta hasil kue yang lebih lembut dan moist, cocok untuk bakery dan pembuat kue profesional.

Sebagai merek lokal yang telah hadir di dapur Indonesia sejak akhir dekade 1970, Rose Brand dikenal sebagai pendukung jajan pasar dan kuliner Nusantara. Produknya diproses secara higienis dengan teknologi modern, dan rangkaiannya lengkap dari kebutuhan rumah tangga hingga skala industri. Margarin Rose Brand bisa dibeli dengan mudah melalui toko resmi di Shopee, Tokopedia, Lazada, dan Blibli. Dengan margarin yang tepat, roti bakar terasa lebih harum, kue lebih lembut, dan pelanggan usaha Anda mendapatkan rasa yang sama setiap kali datang kembali.

Kembali